Powered By Blogger

Senin, 02 Maret 2009

KERA YANG SOMBONG

Oleh : Fikri Azhari Fuadilah

Suatu hari Kuku ayam mengajak bermain pada Keke kera. Kuku berkata :”Ke, kita main yuk, Keke menjawab dengan sombongnya :”Tidak ah…,bermain denganmu bosan, ayam jelek!! Kuku kemudian menjawab dengan penuh amarah :”Tidak ! aku tidak jelek !!.

Awas ya ! sewaktu-sewaktu nanti aku akan membalasmu, Gerutu Kuku sambil ngeloyor meninggalkan kera. Coba aja, kalo bisa …,timpal Keke.

Setelah kejadian itu Kuku langsung ke rumah Bebi bebek dan menceritakan kejadian yang telah dialaminya.

Kemudian, Bebi merasa sedih, maka bebi punya siasat, Bebi berbisik pada Kuku Ayam bahwa bagaimana kalau kita pura-pura mengundang Keke Kera dalam satu pesta kebun, Kuku menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju, okelah! Yang jelas sakit hatiku terobati”, ujar Kuku Ayam meyakinkan dirinya, kalau rencananya itu bakalan berhasil dan dirinya merasa puas.

Singkat cerita, Bebi pulang menemui Kuku, dia menceritakan kalau dirinya telah datang ke rumah Keke dan mengundang makan malam di rumahnya

Hai !teriak Keke Kera kepada Bebi dan Kuku Ayam, yang sedang asyik ngobrol, Hai! Silahkan Ke, masuk … “ jawab Bebi menerima tamunya, bersamaan dengan kaki Keke melangkah waktu itu pula kakinya terperosok ke dalam lubang yang memang sudah disediakan untuk Keke. Tapi karena Keke seekor kera, dengan lincahnya dia meraih akar pohon kuat-kuat dan apa yang terjadi, malahan Kuku dan Bebi sekarang yang terancam bahaya, “Hei! Kalian ternyata bukan mengundang sembarang mengundang, ya…, tapi mau mencelakakan aku, hm… sekarang waktunya kalian semua merasakan akibatnya, dengan cepat Keke mengikat Kuku dan Bebi jadi satu, setelah itu Keke membawanya ke pinggir sungai dan dinaikan keatas perahu, “Makanya, jangan macam-macam sama aku, siapa dulu… Keke, nga ada yang bakalin ngalahin”, “huh… dasar sombong,kalau sudah sombong tetep aja sombong”, gerutu Bebi, “ eh… sudah …sudah…, mendingan kita pikirin bagaimana cara lepas dari ikatan ini” ajak Kuku.

“Oh … iya …ya, gini aja, gimana kalo aku mengajak Keke ngobrol dan kamu mematuk-matukan paruhmu ke ikatan ini dan setelah itu ke perahu, nanti kalao sudah berlubang, pasti perahu ini terggelam bersama Keke yang sombong itu dan kita terbang, gimana ?” Iya … iya… setuju “ sahut Kuku.

“Hei !, ada apa bisik-bisik, mau kabur ya…?, “engg..gak, kita lagi musyawarah bagaimana kalao kita kamu bebasin dan kita akan membawakan makan kesukaanmu yang paling enak”, kata Bebi mulai mengatur siasat, “makanan enak?ah… itu hanya untuk menipuku saja, tapi … boleh juga tuh…!”, baik kalao gitu …, tapi ikatanmu itu tidak akan aku buka, caranya aku akan menambah tali ikatannya, sehingga kalian tidak dapat kabur, ha…ha…ha….!!kata Keke sambil tertawa, bersamaan itu ternyata Kuku telah berhasil melepaskan ikatannya sekaligus melubangi perahu, begitu Kuku memberi isyarat sama Bebi, keduanya langsung “Bbeeuurrr…..” terbang dengan sekuat tenaga takut ditangkap Keke lagi.

Sementara Keke dengan susah payahnya mencari sesuatu agar tidak tenggelam, tapi apa yang terjadi, karena perahu sudah ada ditengah-tengah sungai dan jauh kesana kemari, akhirnya nasib Keke malang, dirinya tenggelam bersama kesombongannya. TAMAT


MEMBELI KUCING DALAM “ KANTONG PLASTIK “

By : Yusep Solihudien

Tanggal 5 Juli 2004 nasib perjalanan bangsa Indonesia akan ditentukan oleh suara yang diputusakan hasil olah nurani dan akal rakyat Indonesia. Sudah lima Presiden memimpin bangsa yang sudah berusia 56 tahun. Sudah cukup tua umur bangsa ini. Di usia ini rasanya cukup untuk mengukur kesuksesan dan kegagalan hidup seseorang. Namun, sebagai rakyat rasanya kita hanya melihat bahwa usia ini justru belum menunjukan kesuksesan. Ibarat seorang tua di usia 56 tahun sakit-sakitan, fakir dan miskin, serta tidak berdaya.

Problematika Bangsa

Kekayaan bangsa yang melimpah ruah di lautan dan daratan sampai digelari jamrud khatulistiwa bahkan Koes Plus menyatakan, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, belum berpihak untuk rakyat. Malahan bangsa kita mempunyai segudang prestasi kebobrokan bangsa. Kita masih tercatat sebagai negara yang prestasi korupsi masuk 5 besar dunia. Kebocoran anggaran negara sampai 30 % yang disinyalir BPK, dan semakin banyaknya anggota DPRD dan kepala daerah yang digusur ke meja hijau, merupakan indikasi kuat betapa korupsi benar-benar merajalela. Lucunya lagi, hampir sebagian besar para koruptor dan konglomerat hitam bisa bebas berkeliaran sambil tersenyum, tetapi pencuri ayam dan jemuran sampai benjol malah dibakar massa dan kakinya ditembak Polisi. Hukum tidak bisa menyentuh orang kaya dan memiliki kekuasaan, hukum hanya untuk orang-orang miskin.

Kemiskinan sebelum krisis ditambah kemiskinan pasca krisis ekonomi semakin melambung tingginya deretan orang-orang miskin bangsa Indonesia.Kondisi ini menjadi bom waktu yang meledak saat ini. Angka pengangguran pun membengkak. Ratusan ribu orang mencari kerja keluar negeri, walau dengan illegal dan skil minim. Kondisi ini membawa epek sosial luar biasa, angka kriminalitas, kerusuhan dan konflik sosial pun membumbung tinggi, dan menjadi hiasan berita sehari-hari kita. Bangsa kita sangat sensitif, bagaikan rumput kering yang dilempar puntung rokok pun bisa kebakaran. Seiring dengan itu, angka kekurangan gizi anak-anak generasi penerus bangsa kita pun semakin membengkak. Rakyat tidak mempunyai kekuatan ekonomi untuk membeli makanan dan minuman bergizi. Lost generation menjadi ancaman besar bagi kelanjutan negeri ini.

Limbah globalisasi ( westernisasi ) informasi menjadikan bangsa kita kehilangan identitas dan jati diri budayanya. Betapa liberalisasi informasi pornograpi dan porno aksi yang didalamnya tertancap budaya kebebasan (librealisme) dan kebahagian (hedonisme), telah memberikan investasi besar bagi semakin tingginya angka pemerkosaan, pergaulan sek bebas (perzinahan), angka aborsi, dan penyakit HIV AIDS. Sisi lain, kualitas pendidikan kitapun masih mencari ramuan-ramuan jitu bagaimana format yang pas bagi pendidikan bangsa Indonesia. Banyak hancurnya bangunan SD, meningginya angka putus sekolah, semakin banyaknya angka anak sekolah bunuh diri, komersialisasi buku di sekolah, banyaknya sekolah yang kekurangan guru, bongkar pasang kurikulum, lemahnya penguasaan bahasa asing, kontroversi UNAS, dan segudang kelemahan pendidikan kita, merupakan deretan kebobrokan pendidikan kita. Akibatnya bisa ditebak, persaingan sumber daya manusia dengan SDM lua negeri banyak mengalami kekalahan. Tenaga kerja SDM kita sebagian besar mengisi dapur, garasi, dan kebun.

Ketidakmandirian dan ketidakberdayaan ekonomi dan politik terhadap intervensi asing masih terlihat dengan kasat mata. Betapa kita tidak sanggup untuk menghadapi tekanan ekonomi asing sehingga aset-aset strategis bangsa diobral dijual ke tangan asing. Belum lagi, kita harus mengemis kenegara-negara donor untuk pinjem duit –ngutang- dengan bunga tinggi dan tentu dengan persyaratan yang ketat untuk keuntungan negara donor. Akhirnya, kita menyaksikan kekayaaan hutan, laut, dan kandungan bumi Indonesia dikeruk habis-habisan oleh kapitalisme asing. Hutang negeri kita pun semakin membumbung tinggi, sampai jumlah hutang Indonesia dibagi jumlah penduduk kita, setiap orang Indonesia mempunyai hutang 7 juta. Belum lagi kita melihat, nasib buruh-buruh pabrik kita sangat memprihatinkan berjuang membiaya hidupnya bahkan ribuan kena PHK. Dengan sangat telanjang, kita pun menyaksikan proyek terorisme asing merambah ke negeri kita. Betapa sangat keukeuhnya polisi kita menahan Abu Bakar Basyir yang bukti-buktinya belum jelas dan kabur

Pilihan Rasional VS Mitos

Dari segudang permasalahan bangsa ini muncul pertanyaan, kira-kira karakter Presiden seperti apa yang akan mampu melesatkan bangsa ini menjadi negeri maju ? Namun saaat ini sedang terjadi perang imag dan citra lewat media, semua bisa dipoles indah, merakyat, dan moralis. Dalam sebuah iklan Capres tertentu, dengan memakai bahasa ABG menojolkan “kapan lagi kita punya presiden keren ”. Capres lain supaya dikesani indah dan dekat rakyat digambarkan membantu nelayan, petani, pedagang dan lain. Bahkan ngadadak kampanye pun pergi ke pasar-pasar ngobrol dengan pedagang, petani dan nelayan. Capres lain memamerkan konon segala keberhasilan kepemimpinannya. Padahal ketika ia sedang menjadi pejabat jarang-jarang mengunjungi pasar tradisonal, petani dan nelayan. Tak ketinggalan terjadi perang fatwa untuk kepentingan Capres. Para tim sukses sedang adu ajian untuk memoles capres dan cawapresnya terutama dengan media televisi. Yang utama, bagaimana memikat hati rakyat dengan memanpaatlam segala mitos dan ikatan emosional rakyat yang dimilikinya.

Pilihan rasional adalah sebuah pilihan yang ditimbang-timbang dengan akal pikiran yang matang dan dalam tidak hanya mengandalkan sentimen emosional semata. Dalam menentukan capres yang pas akan terjadi perdebatan sengit. Namun, diantara hal yang harus dimiliki oleh Capres adalah mempunyai kriteria dasar. Dalam mimpi saya, ia yang pertama haruslah mempunyai sipat dan track record jujur. Kejujuran akan menjadikan pemimpin untuk secara terbuka, tulus, dan ikhlas menjelaskan segala masalah pembangunan bangsa dan dialog terbuka dengan rakyatnya. Kedua, sipat berani. Jiwa keberanian akan menjadikan pemimpin ini berani untuk memberantas dan menggebug segala jenis kemunkaran bangsa tanpa pandang bulu. Ia cukup berani mengambil resiko apapun asal itu untuk kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran rakyatnya.

Ketiga, sipat cerdas. Pemimpin harus mempunyai kualitas intelektual di atas rata-rata. Sehingga ia mampu menghasilkan ide-ide brilian, kreatif, inovatip dan progresif bagi kemajuan bangsa, serta mampu mandiri dan memfilter serta menganalisis formula kebijakan. Era politik baru dalam sejarah Indoensia dalam memilih presiden, secara teori kita tidak lagi membeli kucing dalam karung, tetapi dalam kantong plastik yang transparan. Akan tetapi secara praktis, kita harus sekuat tenaga mengerahkan akal pikiran dan nurani untuk meneliti kualitas “kucing” dalam pemilu terbuka. Kita jangan tertipu dengan manipulasi media televisi yang banyak mengobral mitos-mitos para capres. Sebagai yang beragama Islam kita harus meminta petunjuk Allah SWT melalui shalat istikharah untuk menjatuhkan pilihan calon pemimpin kita. Semoga kita bisa memadukan kekuatan akal pikiran, nurani, dan petunjuk Allah untuk menjatuhkan pilihan Capres kita. Wallahu ‘alam bissawab

NASIB PURWAKARTA PASCA PILKADA

NASIB PURWAKARTA PASCA PILKADA

( Refleksi Philosofis Imaginer )

Oleh : Yusep Solihudien

( Ketua STAI DR.KHEZ. Muttaqien )

Lengsernya Soeharto tahun 1998 merupakan pintu gerbang untuk masuknya kebebasan politik yang tiada taranya, setelah 32 tahun sudah bangsa dikekang dengan kekuatan rezim otoriter Soeharto. Reformasi menjadi sebuah idola politik baru untuk mengekspresikan kebebasan politik yang sangat hebat. Transisi demokrasi dari tahun 1998 sampai 2007 telah menghasilkan 4 presiden yang konon merupakan produk kebebasan politik. Konon ”Klimak politik” dari era reformasi adalah terjadinya pemilihan Presiden, Gubernur dan Bupati / Walikota secara langsung. Malah mungkin kita bisa disebut sebagai sebuah negara ”super demokrasi”, bayangkan oleh kita masyarakat yang di pedesaan melakukan pemilihan langsung yang sangat melelahkan dan panjang. Masyarakat kita memilih langsung ketua RT, RW, Kepala Desa, Bupati / Walikota, pemilihan anggota Legislatif, DPD, dan pemilihan Presiden. Ada sekitar tujuah lapis pemilihan langsung yang dilakukan oleh masyarakat kita.

Jika demokrasi diukur dengan pemilihan langsung pemimpinnya, maka jelas kita negara yang paling nomor wahid dalam demokrasi, sehingga bisa mengalahkan ”embahnya demokrasi” (Amerika dan Eropa). Konon katanya, di negara embah demokrasi pemilihan langsung hanya sampai di jenjang Gubernur saja. Tapi apakah demokrasi telah berkorelasi positif dengan kesejehteraan rakyat. Jawabannya, tidak. Demokrasi tidak menjadi garansi untuk terciptanya kesejahteraan. Katakanlah konon pemilihan desa yang dipilih langsung oleh masyarakat sudah berjalan puluhan tahun, namun apakah masyarakat desa telah bergerak ke arah sejahtera. Tentu tidak, masyarakat di pedesaan masih berenang dalam lumpur kemiskinan, dekadensi moral, kekurangan gizi, pengangguran dan keterbelakangan pendidikan serta infrasturktur desa yang rusak.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan radikal mengapa demokrasi di jenjang desa sudah hebat, namun tetap masyarakat dalam kubangan penderitaan. Untuk menjawab hal tersebut, kita terpaksa harus meminjam sedikit teori. Konon menurut teori, demokrasi akan berkualitas baik, jika ditunjang oleh kondisi ekonomi yang stabil dan baik dan tingkat pendidikan masyarakat yang baik pula. Prasyarat teoritis politik ini belum terpenuhi di negeri kita, malah sangat amburadul. Dalam kondisi ekonomi yang super krisis, sembako mahal dan pendapatan masyarakat semakin rendah, akan muncul rumusan bagaimana caranya dapat uang sebanyak mungkin untuk memperpanjang kehidupan. Dalam kondisi tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, masyarakat terjebak pada ”sinetron politik” mudah dibohongi, agitasi, adu dan domba politik, silau oleh simbolitas politik, mitos politik, dan gampang menerima embel-embel materi, bahkan mistis politik sekalipun. Dua Prasyarat politik itu merupakan mayoritas yang ada di masyarakat kita. Maka ada beberapa kemungkinan politik yang terjadi dengan kondisi tersebut.

Pemilihan langung Desa, Bupati/Walikota, Gubernur, DPRD, DPR, DPD, dan Presiden telah menyedot anggaran pemerintah puluhan trilyun, belum lagi sang calon harus siap menggelontorkan untuk Cost Politik dan Money politik”. Seorang kepala Desa bisa menghabiskan puluhan juta bahkan lebih hanya untuk menjadi kepala desa di kampungnya. Seorang yang ingin menjadi calon Bupati dan Wakil Bupati harus menyiapkan uang untuk bayar ”tiket politik” melalui partai politik, uang untuk pelumas mesin-mesin partai, uang untuk garansi politik dengan berbagai stakeholders, uang untuk biaya kampanye, untuk membayar saksi pemilu, serangan fajar (money politik), dan kalau menang harus ada uang bonus untuk tim sukses. Calon harus menyiapkan anggaran sampai puluhan miliyar rupiah untuk menyiapkan diri dalam medan pilkada.

Masalahnya, bagaimana caranya calon bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Ada beberapa kemungkinan, pertama memang calon sudah kaya sebelum mencalonkan diri. Calon ini akan lebih leluasa untuk bergerilya politik dengan kekuatan uang yang dimilikinya. Kedua, calon memang kondisi hartanya pas-pasan, sehingga bagi calon yang incumbent bisa dengan leluasa numpang beken lewat APBD dengan cara mark up atau korupsi sekalipun. Bagi calon yang tidak ada kuasa, maka ia bisa mengumpulkan para pengusaha untuk ”patungan politik” atau utang piutang dengan garansi proyek-proyek APBD, jika dirinya menang.

Selepas calon menang dalam pertarungan Pilkada, ia akan menjadi Bupati untuk empat tahun kedepan. Ada prediksi refleksi imaginer yang akan terjadi jika Bupati / Wakil Bupati yang jadi tidak mempunyai ”rem keimanan dan akhlak ”. Karena untuk membayar utang piutang politik dengan mengandalkan gaji Bupati atau oprasional Bupati secara murni dan benar tidaklah akan cukup. Maka tahun kesatu dan kedua bagaimana caranya membayar utang piutang pilkada kepada para pengusaha, dengan beberapa modus antara lain dengan mark up proyek, prosentase proyek, dan memeras para pejabat kepala Dinas. Tahun ketiga dan keempati harus mencari lebih untuk kekayaan pribadi dan persiapan untuk pilkada berikutnya. Kemungkinan untuk skenario ”kezaliman politik ”ini akan mulus jikalau ditunjang oleh kekuatan mayoritas politik di DPRD dan lemahnya kontrol kekuatan ekstra parlemen ( gerakan mahasiswa, LSM, Pers, dan ulama).

Belum lagi terbuka peluang untuk semakin gonjang ganjing politik penyimpangan-penyimpangan APBD periode yang lalu. Lagu-lagu manis yang dinyanyikan pada saat kampanye Pilkada yaitu mensejahterakan rakyat, pendidikan gratis, kesehatan gratis, perbaikan pertanian dan perkebunan, pemberian modal, perbaikan infrastrukutur, perluasan lapangan kerja, dan lain-lain merupakan rayuan manis yang selalu dikumandangkan di hadapan rakyat. Lagu-lagu itu hanya tinggal kenangan indah waktu kampanye.

Agenda-agenda perbaikan Purwakarta seperti penataan pendidikan, penataaan pelayanan kesehatan, peningkatan kesejahteraan rakyat dan usaha kecil, perbaikan infrasturktur, penarikan investor, pembukaan lapangan kerja, peningkatan gizi masyarakat, penataan pasar tradisional dan tata ruang, serta segudang agenda pembangunan lainnya telah menanti untuk ditingkatkan ke arah yang lebih baik. Kalau Pimpinan Purwakarta yang sekarang menjadi pemenang sibuk terlarut untuk ” membayar piutang dan kekayaan pribadi dan golongannya” serta menari-nari diatas penderitaan rakyat, maka ia berarti telah memilih ”gerak sejarah kehancuran daerah ”. Karena Gusti Allah bersabda, ” Apabila aku bermaksud hendak membinasakan suatu kaum maka aku perintahkan pemimpin-pemimpin itu untuk taat, tetapi mereka ingkar, maka sungguh telah berlaku suatu keputusan dan kami hancurkan dengan hancurnya”.

Seluruh kekuatan elemen umat telah diperintahkan Gusti Allah dan kangjeng Nabi Saw. untuk melakukan ”amar ma’ruf nahyi munkar politik” dengan mempertajam pengawasan dan menggalang kekuatan ”ekstra parlemen” agar terwujud ”watawa shaw bil haq dan watawa shaw bil Shabar” yang tulus, solutif, dan sinergis. Tentu saja, kekuatan kritik harus diniatkan rasa cinta dan ikhlas pada pimpinan agar tidak tergelincir menjadi pemimpin yang zalim. Jika amar ma’ruf politik itu mandeg dan tumpul, maka kita harus siap-siap menghadapi ”parade dan pameran bencana/musibah ” yang mungkin akan menimpa kota tercinta ini. Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk berbuat yang terbaik dan terindah bagi Purwakarta. Wallahu ’alam Bissawab.

Artikel for Buku “Gender dalam Berbagai Perspektif”

MENGGAGAS TEOLOGI “BARU” PEREMPUAN

(Sebuah Refleksi Sosio-Psikologis)

Oleh : Asep Gunawan, M. Ag.

Discourse[1] tentang perempuan selalu menarik dan sepertinya tidak pernah out of date. Hal ini disebabkan, disamping karena memang perempuan adalah makhluq yang memiliki daya tarik 'luar biasa' untuk dibicarakan - baik dari sudut pandang biologis ataupun sosio-psikologis, juga karena memang kasus-kasus yang berkaitan dengan perempuan memiliki daya pikat ibarat penomena gunung es di lautan. Disinyalir dari kasus-kasus tentang perempuan yang muncul ke permukaan, hanya satu persepuluh yang benar-benar terangkat dan terlihat di permukaan. Sementara sembilan persepuluhnya masih terhalang oleh dalamnya lautan segmentasi kehidupan yang umumnya didominasi oleh laki-laki.

Perlahan tapi pasti, setelah wacana tentang posisi kesetaraan gender banyak diwacanakan, kasus-kasus yang berkaitan dengan perempuan mulai terkuak. Mulai dari kasus pelecehan dan kekerasan seksual, trafiking sampai kasus kekerasan dalam rumah tangga yang mayoritas korbannya adalah perempuan, sekarang ini silih berganti menghiasi media dan forum-forum diskusi. Umumnya, kasus-kasus tersebut oleh aktifis gender dijadikan titik pemberangkatan (starting point) untuk adanya upaya reposisi perempuan agar bisa lebih memiliki peran dalam seluruh segmentasi kehidupan.

Persepsi dan bahkan keyakinan bahwa posisi perempuan merupakan subordinat laki-laki ditempatkan sebagai faktor utama yang paling kuat untuk terjadinya kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Persepsi dan keyakinan inilah yang membawa kepada sikap menomor-duakan perempuan. Perempuan adalah makhluq kelas dua yang sengaja diciftakan oleh Tuhan untuk 'melayani' laki-laki. Efeknya, otoritas kekuasaan (power authority) laki-laki atas perempuan begitu besar dan kuat. Relevan dengan apa yang disebutkan oleh Lord Acton, “the power tend to corrupt”, otoritas kekuasaan mutlak laki-laki pada akhirnya banyak mengkorupsi (baca : mendzalimi) hak-hak hidup dan kehidupan perempuan.

Sejarah bangsa-bangsa terdahulu menjadi saksi bagaimana kekuasaan mutlak laki-laki begitu dominan terhadap perempuan, bahkan sampai batas yang sangat mengerikan dari sudut pandang kemanusiaan. Perdagangan perempuan (trafiking), pelecehan dan kekerasan seksual, pembunuhan bayi perempuan dan persembahan gadis untuk upacara-upacara tertentu, merupakan penomena yang sudah lumrah terjadi menyertai perjalanan sejarah peradaban bangsa Babilonia, Persia, Romawi, Yunani, Mesir, Cina dan India.

Pemikiran Mistik dan Teologi

Auguste Comte, peletak dasar sosiologi modern, pernah mengungkapkan bahwa lipatan perkembangan pemikiran manusia mengalir melalui tiga tahapan penting yang akan berakhir pada sebuah kondisi dimana manusia menempatkan logika positivistik sebagai “cagar bahasa” berpikir. Walaupun ada beberapa titik kelemahan dari tesis Comte di atas, misalnya berkaitan dengan masih banyaknya manusia (yang mengaku) modern dan berpikiran positivistik sampai hari ini - ternyata - masih terlibat intensif dengan pemikiran mistik dan teologi; dan juga perdebatan tentang tahapan pemikiran yang mana yang sebenarnya muncul paling awal, tesis ini bagus digunakan untuk memahami konteks sosio-budaya pemikiran dalam lintasan sejarah “pemaknaan” perempuan; sehingga akan lebih mudah dipahami kenapa terjadi “keterpurukan” dalam sejarah kehidupan perempuan.

Dalam konteks ini, salah satu faktor yang dianggap signifikan yang seringkali dijadikan 'kambing hitam' adalah dasar-dasar mistik sebuah kepercayaan dan teologi sebuah agama. Pembunuhan bayi perempuan dan persembahan gadis untuk upacara-upacara tertentu yang pernah (dan bahkan disinyalir sampai saat ini masih) terjadi adalah bentuk nyata dari pengaruh pemikiran mistik. Dalam ranah logika pemikiran mistik, perempuan diposisikan tidak lebih hanya menjadi sumber sekaligus pereda suatu bencana. Ketika terjadi amuk bencana tsunami misalnya, yang terpikir dalam benak para tetua adat dan dukun suatu komunitas masyarakat primitif dahulu adalah sang penguasa laut sedang marah dan karena itu perlu diberikan sesajen (persembahan). Karena dari sejak awal perempuan dianggap sebagai pembawa bencana dan kesialan, maka untuk meredakan amarah sang penguasa laut perlu diadakan upacara penghormatan dengan seorang perempuan (gadis perawan) sebagai sesajinya.

Penafsiran tentang kejadian awal penciftaan manusia pertama yang merujuk pada kisah Adam dan Hawa merupakan titik awal berkembangnya pemikiran mistik tentang relasi laki-laki dan perempuan. Keyakinan bahwa Hawa (perempuan pertama) diciftakan dari tulang rusuk Adam (laki-laki pertama) hingga dijadikan dalil simbolisasi subordinasi perempuan dari laki-laki, juga tidak lebih merupakan keyakinan yang lahir dari rahim pemikiran mistik yang pada kenyataan selanjutnya berpengaruh besar pada pemikiran teologi. Terbukti, sampai hari ini, ada beberapa agama (tepatnya pemikiran keagamaan) yang masih mendasarkan pemikiran teologinya (khususnya tentang perempuan) berdasarkan logika mistik di atas.

Pengaruh pemikiran mistik yang berimbas pada pemikiran teologi ini pada kenyataannya banyak terjadi dalam praktek-praktek keagamaan. Dalam praktek keagamaan agama-agama sebelum Islam datang misalnya, seorang perempuan yang sedang dalam masa haid itu sangat menjijikan sehingga harus benar-benar dijauhkan dari suami dan anak-anaknya. Sementara dalam praktek keagamaan agama lainnya, seorang perempuan yang sedang haid justru tidak mendapatkan penghormatan sama sekali. Sedang dalam masa haid atau tidak, kapan dan dimanapun perempuan memiliki tanggungjawab melayani suaminya.[2]

Tentang “kejatuhan” Adam dari surga akibat rayuan Hawa - yang sebelumnya Hawa juga terjebak oleh rayuan Setan, kurang lebih memiliki dasar logika yang sama. Dari dalil logika ini kemudian muncul pemikiran bahwa perempuan identik dengan “makhluq perayu” dan “pembawa sial”. Dari pemikiran ini akan lahir pemikiran lainnya yang lebih liar lagi, seperti misalnya : “Kalau saja Adam (laki-laki) tidak dirayu oleh Hawa (perempuan) untuk memakan buah khuldi, mungkin saja manusia sekarang ini hidupnya akan enak di surga; tidak akan hidup di bumi yang identik dengan perjuangan keras”.

Efek dari pemikiran-pemikiran di atas, memunculkan pandangan negatif terhadap kaum perempuan. Perempuan dipandang menjadi kaum kelas dua. Stigma ini bukan hanya muncul di kalangan mereka yang terbiasa dengan tradisi pemikiran mistik, tokoh sekaliber Aristoteles yang dielu-elukan memiliki karisma intelektual tersendiri bagi para pemuja logika dan penganut pemikiran positivistik, pernah terjebak pula dalam buaian pemikiran ini. Diantara ungkapan Aristoteles tentang perempuan yang sempat terekam oleh zaman adalah seperti yang dikutip oleh Jalaludin Rahmat (1989 : 24), yang diantaranya Aristoteles menyebutkan bahwa perempuan adalah manusia yang belum selesai, yang tertahan dalam perkembangan tingkat bawah.

Endapan pemikiran mistik tentang relasi perempuan dan laki-laki yang tidak berperspektif gender ini masih melekat kuat dalam pancaran pemikiran teologi beberapa agama, terutama agama yang keterlibatannya dengan budaya (baca : agama non-samawi) sangat kental. Dalam Rig Weda disebutkan : “Tidak boleh menjalin persahabatan dengan perempuan. Sebab, pada kenyataannya, hati perempuan adalah sarang serigala”. Bahkan menurut Kongfuchu, ada dua jenis manusia yang sukar diurus, yaitu : turunan orang rendahan dan perempuan (Jalaludin Rahmat, 1989 : 24).

Sebagai agama yang tidak menafikan keterlibatan budaya manusia (mengingat Islam sholihun likulli makan wa zaman) dalam perumusan produk ijtihadnya, Islam (baca : umat Islam) juga seringkali terlibat dalam pemikiran yang bias gender dalam menyikapi relasi perempuan dan laki-laki. Salah satu faktor penting yang menjadi penyebab utamanya adalah pengadopsian kisah-kisah israilliyat tanpa penyaringan yang ketat dalam penafsiran al-Qur’an. Beberapa mufasir kitab tafsir klasik ketika berbicara tentang kisah-kisah masa lampau dan hal-hal gaib, masih menggantungkan referensi argumentasinya kepada kisah-kisah israilliyat. Sehingga, bukan satu hal yang kebetulan, jika ketika menafsirkan ayat yang berkaitan dengan relasi perempuan dan laki-laki, disadari atau tidak, pengaruh kisah-kisah israilliyat ini sangat begitu kental. Sementara berkaitan dengan kisah-kisah israilliyat ini, Nabi Muhammad hanya memberikan komentar : “Jangan membenarkan dan jangan pula menyalahkan”.

Komentar “tidak saklek” Nabi inilah yang membawa pada implikasi pemahaman di kalangan para mufasir bahwa kisah-kisah israilliyat dianggap masih memberikan manfaat untuk kepentingan penafsiran al-Qur’an. Maka dari itu, tidaklah mengherankan jika beberapa diantara mufasir masih melibatkannya untuk memperkuat logika argumentasi penafsirannya, termasuk dalam penafsirkan ayat yang bermuatan gender.

Pemikiran Teologi Islam

Sebelum Islam datang, status dan peranan perempuan berada di bawah subordinasi laki-laki lebih dari itu perempuan tidak saja dihina, diremehkan tetapi juga ditindas dalam arti selalu mendapatkan tindak kekerasan. Bahkan atas nama kebudayaan, sejak awal kehidupannya penikmatan seks perempuan sengaja direduksi, karena dia dipaksa untuk melakukan proses pemotongan cliotirs atau bahkan bibir kecil vagina : multilasi genital (khitan).

Pada zaman jahiliyyah nasib wanita di Arabia tidak jauh berbeda dengan nasib rekan-rekan mereka di tempat lain. Mereka tidak mendapatkan hak waris, bahkan boleh diwariskan dari ayah seseorang kepada anak-anaknya bila si ayah memiliki istri lebih dari satu. Memiliki wanita dianggap aib, sehingga banyak melakukan pembunuhan atas anak-anak wanita. Dalam tradisi pembagian harta pusaka yang telah diwarisi oleh leluhur mereka terdapat suatu ketentuan utama bahwa anak-anak yang belum dewasa dan kaum perempuan dilarang mempusakai harta peninggalan ahli warisnya yang telah meninggal dunia. Tradisi menganggap bahwa anak-anak yang belum dewasa dan kaum perempuan adalah sebagai keluarga yang belum atau tidak pantas menjadi ahli waris.[3]

Islam hadir untuk menyelamatkan dan membebaskan kaum perempuan dari kehidupan yang menyiksa. Al-Qur’an mengajarkan kaum laki-laki dan perempuan agar saling menyayangi dan mengasihi (QS. al-Rum 30 : 21). Atas dasar inilah maka setiap pandangan atau asumsi yang menyatakan bahwa Islam merendahkan atau melecehkan perempuan adalah salah besar, karena sifat merendahkan dan melecehkan, atau mencederai apalagi menindas manusia merupakan pelanggaran terhadap hak-hak Tuhan.

Membaca struktur sosial budaya bangsa Arab pada waktu al-Qur’an diturunkan dan pada waktu Nabi Muhammad hadir, wacana dan aturan menyangkut soal-soal perempuan yang disampaikan kedua sumber ini menunjukkan dengan jelas adanya proses-proses transpormasi sosial budaya yang sangat progresif. Umar Ibn al-Khaththab, khalifah kedua, sempat memberikan komentar yang mengesankan keterkejutan ketika membaca teks-teks suci Islam yang transpormatif itu. Ia mengatakan : “Ketika jahiliyah, kami sama sekali tidak pernah memandang penting kaum perempuan. Tetapi ketika Islam datang dan Tuhan menyebut-nyebut mereka, kami baru menyadari bahwa mereka memiliki hak atas kami.”

Mengapa perspektif diskriminatif atau subordinatif terjadi dalam wacana atau pemikiran keagamaan? Ada beberapa kemungkinan jawaban : (1) karena kekeliruan dalam menginterpretasikan bunyi teks secara harfiah, (2) karena cara atau metode penafsiran yang parsial atau tidak utuh, secara sepotong-potong, sebagian atau separo dari keseluruhan teks, (3) karena seringkali didasari dan dikuatkan oleh hadits-hadits (dhoif) atau bahkan hadits-hadits palsu (maudhu) atau kisah israiliyat.

Tiga kemungkinan di atas, pada akhirnya terakumulasi dalam interpretasi dan seringkali kurang memperhatikan sosio-kultural dimana dan kapan firman itu diturunkan, atau disebut juga asbabun nuzul dan asbabul wurud. Salah satu dari sejumlah faktor yang membuat penomena kekerasan terhadap perempuan menjadi kuat dan efektif adalah karena adanya dukungan tradisi atau kultur patriarkhi yang menghegemoni.



[1] Discourse adalah pewacanaan tentang suatu masalah dengan pendekatan logika dan argumentasi keilmuan.

[2] Asbab Nuzul ayat tentang haid adalah kebingungan sebagian wanita muslim berkaitan dengan siklus biologi bulanan yang menimpa mereka, karena berkembangnya dua praktik keagamaan yang berbeda yang dilakukan oleh umat Yahudi dan Nasrani.

[3] Muhammad Husain al-Thabathaba’I, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an (Mu’assasat al-A’lami li al-Mathbu’at, Beirut, t.t.), h. 207.

MEMPERTANYAKAN KEMBALI KEISLAMAN KITA

Oleh : Didih Ahmadiah, S.Q, S.Hi[1]

Diakui atau tidak, kita semua “tadinya” hanyalah Islam turunan. Namun kemudian, setelah kita mampu berfilir kritis dan bisa membedakan yang baik dan yang buruk, kita dituntut bukan hanya menganut Islam karena kita lahir dari orang tua kita yang sudah Islam. Kita dituntut untuk bisa memilah dan memilih mana yang akan kita jadikan pegangan selagi kita hidup di dunia ini.

Manusia terbebani dua keadaan, keadaan dimana ia tidak bisa memilih sama sekali (destiny/takdir), kita lahir di mana, dari siapa, laki- laki atau perempuan, itu semua sudah menjadi kehendak Sang Penguasa Alam, dan keadaan ini tidak akan kita pertanggung jawabkan. Keadaan kedua yakni keadaan dimana kita bisa memilih, kita akan menjalani hidup seperti/sebagai apa? Jalan mana yang akan kita tempuh? Itu semua adalah pilihan, dan keadaan kedua ini akan kita pertanggung jawabkan (mas’uliyah) dihadapan sang pencipta.

Hidup adalah pilihan, dan untuk menghadapi hidup yang penuh pilihan ini gusti Allah Jalla wa’Ala telah memberikan panduan yang Dia titipkan kepada nabi kita Muhammad sang pemilik akhlak paling mulia. Bahkan sebelum nabi kita wafat, beliau menegaskan sekali lagi bahwa kita harus berpegang pada panduan tersebut,ia adalah Al Qur’an.

Al Qur’an sendiri menyatkan bahwa dirinya adalah “hudan/petunjuk”, furqon/pembeda”, dzikru/peringatan”, dan masih ada lagi yang lain. Namun semua itu akan percuma dan sis – sia seandainya tidak kita fahami. Petunjuk tidak akan jadi pengarah kearah kebenaran, pembeda tidak akan menjadi panduan memilih yang terbaik, peringatan juga tidak akan bisa menyadarkan kita yang lalai seandainya hanya ada dalam kamus “ tahu’’ saja. Kita semua tahu al Qur’an, namun hanya sebatas itu.

Al Quran adalah our way of life, semua aturan yang menjadi panduan kita sebagai ummat Islam ada di dalamnya., namun kita hanya tahu al Qur’an, kita tidak kenal, kita tidak menjadikannya teman yang mesra, kita tidak menjadikannya sahabat sejati yang akan membenarkan kita ketika kita salah, yang akan mengingatkan kita ketika kita khilap, yang akan menunjukkan jalan yang benar ketika kita linglung kehilangan arah, yang akan jadi “kompas” ketika kita tersesat.

Kalau memang ini yang terjadi, kita harus tanyakan kembali kepada diri dan hati kita “ benarkah keislaman saya teh?”

Contoh ringan adalah moment Iedul Fitri. Iedul fitri adalah waktu yang tepat untuk kita memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia ( habluminaannas ) setelah kita selama sebulan ramadhan penuh memperbaiki hubungan dengan Allah ( hablumminallah ). Namun kenyataannyan apa yang biasa kita lihat, Iedul Fitri seolah kehilangan soulmatenya, orang lebih banyak rekreasi dari pada silaturahmi, bahkan jauh – jauh hari sudah nabung hanya untuk mengunjungi tempat bersenang – senang, tempat yang biasanya malah menjauhkan kita dari Allah. Kakek dan neneknya yang masih hidup belum dia kunjungi dan mintakan ma’afnya malah sudah mengunjungi sang hanoman yang ada di Zoo (entah kalua dia merasa setuju dengan teori Darwin……..)

Kalau memang ini yang terjadi, maka kita harus tanyakan kembali pada diri dan hati kita “ bener can euy keislaman kita teh…?

Memang sudah menjadi suatu hal yang lazimah dan kayaknya “rada manusiawi”, mengaflikasikan gerakan mulut kita dalam bentuk tindakan nyata susahnya bukan main. Mungkin untuk itu Allah jauh – jauh hari sudah menegaskan dalam surat-Nya buat kita, “hai orang – orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Dan Allah sangat benci dan murka terhadap orang yang hanya bisa bicara tanpa karya nyata” ( Q.S Al Shaaf : 3-4 ).

Kita memang biasanya hanya bisa “taat kalau ada yang lihat”, contoh sederhana dalam kehidupan. Seorang pengendara menerobos lampu merah, dan ternyata ada penegak hukum -yang kadang – kadang tidak tegak- yang tida dia lihat, akhirnya ia ditilang, sambil menunjukan wajah yang diseram –seramkan pak polisi berkata : apa kamu tidak lihat lampu merah? Saya lihat pak!! Jawab I pengendara dengan ekspresi tenang. Kemudian sang polisi berkata lagi dengan nada lebih keras, lalu kenapa kamu terobos lampu merah itu ? dengan wajah polos dan tanpa dosa si pengendara menjawab : saya tidak lihat bapak, pak polisi ….??!!!!

Memperhatikan cerita sederhana diatas, kalau kita perhatikan dalam kehidupan keberagamaan kita, ternyata kita selama ini belum benar – benar memahami arti “ihsan” yang sesungguhnya. Seperti didefinisikan para jagonya ilmu agama yang dikenal dengan sebutan ulama, ihsan itu sebagai bentuk keyakinan kita akan perhatian sang pencipta “ kamu beribadah kepada Allah seolah kamu lihat Dia, seandainya kamu merasa tidak melihat –Nya, maka yakinlah kalau Dia melihat kamu”. Kalau begitu benang merah yang bisa kita tarik dari narasi diatas adalah “rumus hidup sukses di dunia dan bahagia di akherat kelak (kalau anda yakin akhirat ada) adalah kita merasa selalu diperhatikan Allah Sang Pemerhati, tapi sudahkah kita merasa demikian? Kalau belum, itu artinya kita harus tanyakan lagi kepada diri dan hati kita, sudah benarkah keislaman saya teh?????...!!!!

Wallahu a’lam…….

REMEMBER THIS…!!!!!!

Kalau kamu ingin membenci atau memusuhi sesuatu, maka bencilah “perutmu” sendiri ! karena tidak ada yang lebih jahat dari perut. Semua yang dilakukan oleh seluruh makhluk hidup terutama yang namanya manusia, adalah komando perut, perut adalah komandan yang akan selalu ditaati oleh siapa saja. Orang berani nyuri dan korupsi untuk perut, orang berani bohong dan menipu hanya untuk turut ”kahayang” perut.

Kalau kamu ingin memuji, maka pujilah Allah Ajja wajalla!! Karena tidak ada yang patut dipuji selain dari-Nya. Dia yang telah memberikan segala fasilitas hidup mewah di apartemen keren yang bernama dunia,maka pujilah Dia dengan say thank you than aflikatif. Manfa’atkan segala yang telah diberikan-Nya dengan baik, pelihara dan rawat serta jaga dari segala macam kerusakan, jangan malah kamu sendiri yang merusaknya.

Kalau kamu bersiap menghadapi sesuatu, maka bersiaplah untuk menghadapi kehidupan akherat nanti, karena tidak ada kehidupan yang sesungguhnya selain kehidupan di akhirat nanti. Kamu akan dimintai pertanggungjawaban dari semua yang telah kamu lakukan di dunia ini. Ingat!!! Bahwa pintu menuju akhirat telah menganga menanti dihadapanmu, ia adalah “mati” dan semua orang akan melewati pintu itu. Satu cara biar kita tidak bertemu dengan mati yaitu “ jangan hidup”, tapi kalau kita sudah terlanjur hidup, maka kita tinggal bersiap untuk menghadapinya.

Remember this too….!!!!

Aku tahu, amalku tidak mungkin diperbuat oleh orang lain, makanya aku sibukkan diriku untuk beramal

Aku tahu bahwa jatah rizkiku di dunia tidak akan diambil orang lain, makanya aku tenang

Aku tahu bahwa bahwa Allah selalu melihatku, makanya aku malu seandainya Dia mendapatiku sedang berbuat maksiat

Aku tahu bahwa kematian telah menantiku, makanya aku bersiap menghadapinya demi kehidupan akheratku….



[1] Penulis adalah manusia biasa, pecinta sepak bola, penggemar Seva…

MEMBANGUN GURU "SUBVERSIF"

(Yosep Solihudien)

Ketika seorang murid ditanya, mengapa kamu tertarik dengan pekerjaan ini? Jawabannya hampir dipastikan karena adanya factor guru yang balk, dalam menyampaikan pengajarannya kredibel, variatif, dan tidak monoton. Sebaliknya ada anak yang mengatakan , "Ah, saya malas pelajaran ini karena gurunya tidak ahli, membuat ngantuk, dan sangat galak serta monoton". Betapa posisi guru sangat menentukan dalam mentransfer nilai-nilai moral dan pengetahuan anak. Ibarat sebuah produk maka laku dan tidaknya produk tersebut sangat tergantung strategi pemasaran dan penyajian. Jika strategi pemasarannya menarik, menyentuh, dan cukup menggoda, maka akan banyak yang tertarik dengan produk. Sebaliknya, sebagus apapun sebuah produk kalau strategi pemasaran dan penyajiannya buruk dan tidak menarik, maka tidak akan banyak peminat.

Kurikulum adalah sebuah produk yang didalamnya tersimpan harapan, tujuan, dan cita-cita. Terlepas dari adanya kritik tentang segudang kelemahan kurikulum pendidikan kita. Pencapaian sasaran kurikulum sangat tergantung pada kecerdasan dan kreatifitas guru dalam menentukan strategi pemasaran dan penyajian. Dalam istilah perang sering muncul "man behind the gun". Sehebat apapun sebuah senjata kalau manusia penggunaannya tidak mempunyai mentalitas dan kecakapan berperang tidak akan berguna. Mengapa pasukan Amerika lari pontang panting dari peperangan Vietnam, pasukan Rusia terbirit-birit dihantm oleh kelompok mujahidin Afganistan serta para pahlawan bangsa kita yang mampu memberikan perlawanan sengit pada Belanda. Jawabannya karena tidak mempunyai mentalitas berperang. Guru adalah pasukan yang senjatanya adalah kurikulum, untuk memenangkan pertarungan persaingan SDM bangsa kita dengan bangsa-bangsa lain.

Betapa produk SDM kita sangat memperhatikan ketika bertarung dengan bangsa-bangsa lain.

Laporan World Competetieveness Report (1996), sangat jelas menunjukkan dan membuktikan rendahnya daya saing SDM kits, khususnya di negara-negara ASIA. Dari segi kemampuan menembus pasar internasional, Indonesia berada diurutan ke-37, penguasaan IPTEKke-40, dan persaingan SDM kits berada diurutan terakhir ke-45. pada tingkat intwernasional ilmuan kita terkenal rendah. Menurut Menurut Institut of Science Information di Amerika (1995), Indonesia berada diperingkat 92 dengan nilai 0,012 ini di bawah Srilangka (0,019), Uruguay (0.13), dan lebih jauh lagi dibawah Malaysia (0,64), Nigeria (0,037), dan Thailand memperoleh nilai 0,086. gambaran ini menunjukkan ilmuan kita belum go intemasional. (Republika 22/10/1997). Data ini hasil penelitian badan-badan internasional yang dilakuakan sebelum terjadi badai krisis ekonomi. Setelah krisis ekonomi maka dunia pendididkan pun terkena imbasnya,

dan semakin mempertambah kompleksitas masalah pendidikan kita.

Langsung maupun tidak langsung kegagalan pertarungan SDM kita merupakan cermin dari kegagalan sistem pendidikan suatu bangsa. Tentu tidak adil kalau kemudian kegagalan SDM kits disalahkan total ke lembaga pendidikan formal semata, sebab pembentukan karakter SDM adalah investasi lingkungan keluarga, sosial politik nasional dan internasional serta sekolah. Karena itu, salah satu elemen yang harus diperbaiki adalah lembaga pendidikan formal yang ujung tombaknya adalah sosok dan peran guru. Berbicara kualitas guru sseringkali berhubungan dengan masalah kesejahteraan, sehingga timbul tesis, "jika kesejahteraan guru naik maka kualitas pendidikan pun akan naik". Walaupun tesis ini masih bias diperdebatkan. Angin reformasi telah merubah paradigma penggajihan guru khususnya PNS menjadi lebih baik, sehingga jika tesis itu kita pegang maka sekarang ini tinggal " perubahan paradigma" dari budaya santai, rekayasa nilai, dan malas menjadi budaya

dinamis, variatif, gaul dan professional, karena negara telah membayar gaji dengan lebih baik. Diantara perubahan ini adalah menumbuhkan virus "subversif dalam did guru. Istilah ini mengandung kengerian khususnya di zaman Orde Baru. la bermakna pembebasan dan pencerahan pemikiran dan hati nurani kepada para anak didik. Tulisan ini sedikit memberikan informasi masalah guru "subversiv" ini.

Problematika Guru

Problematika ini Iebih menyangkut pada kualitas penguasaan materi, administrasi dan cara pengajaran serta religiusitas peta problematika ini tidak terlepas dari kebijakan pendidikan nasional khususnya kurikulum dan kepegawaian. Menurut Paolo Freire (1972) dalam bukunya Paedagogy of the Oppressed, salah satu jenis pendidikan ada yang disebut dengan pendidikan "gaya bank" dimana ruang gerak yang disediakan bagi kegaiatan murid hanya terbatas pada menerima, mencatat dan menyimpan. Gaya pendidikan ini Iebih sesuai dengan kurikulum yang padat. Nampaknya Indonesia termasuk pendidikan kurikulumnya sangat padat. Sehingga celah guru untuk melakukan improvisasi pengajaran sangat takut akan tidak terkejarnya materi kurikulum.

Proses pendidikan gaya ini hanya menjadikan anak didik adalah celengan dan para guru adalah penabungnya. Lebih lanjut menurut Paolo Freire yang terjadi bukanlah proses komunikasi, melainkan guru menyampaikan pernyataan-pernyataan dan mengisi tabungan yang diterima, dihafal dan diulangi dengan patuh oleh para murid. Di dalam pendidikan "gaya bank" anak didik yang balk adalah murid yang bisa mengulang kembali apa yang disampaikan guru, bukan murid yang mengerti apa yang disampaikan guru. Gejala pengajaran gaya bank ini hampir terjadi disebagian besar pendidikan kita. Entah karena keterbatasan wawasan metode pengajaran, kepadatan kurikulum ataupun kemalasan.

Problematika lain yaitu, pemenuhan perangkat administrasi pengajaran. Secara teoritik, akademik dan aturan profesi guru haruslah membuat persiapan harian. Namun dalam kenyataan, sangat jarang guru membuat administrasi persiapan harian. la berdalih, bahwa yang penting itu mengajar yang baik. Padahal untuk mengukur kinerja haruslah ada bukti fisik yang ada dalam administrasi persiapan harian dan kemampuan administrative ini jugs menjadi variable penilaian pengangkatan. Tidak jarang mengajar Iebih melihat pada bab atau halaman yang ada di buku sumber murid, tidak digandengkan dengan arah dan subtansi kurikulum yang ada di GBPP. Sehingga pencapaian kurikulum dilihat pada sudah sampai atau tidaknya batasan bab yang telah ditetapkan penerbit buku per catur wulan atau semester. Padahal sangat bisa jadi simbolisasi materi pelajaran dalam buku belum menyentuh arah dan subtansi kurikulum.

Hal lain yaitu aspek religiusitas, is Iebih pada sejauh mana memberikan tauladan yang balk dalam keberagaman kepada anak-anak didiknya, tidak hanya sosok "transfer of science". Pandangan citra guru disebagian masyarakat sekarang ini lebih melihat hanya sebagai pengajar saja, bukan pendidik. Banyak kita dengar kasus pelecehan guru kepada murid, selingkuh seorang guru denganguru atau murid, sampai pada perkosaan dan kriminalitas. Atau guru kurang dalam memberikan tauladan keberagamaan lain seperti jarang atau tidak sholat, berakhlak yang kurang

balk, jual bell nilai dan sebagainya.

Pada zaman orde baru guru sering jadi sapi perahan kaum birokrat, kebanyakan diam seribu bahasa. Dengan keterbukaan di era reformasi guru haruslah menjadi sosok guru yang kritis terhadap kebijakan birokrat yang bertentangan dengan moral dan etika profesi. Sebab kebiasaan kaum birokrat pemerintahan lalu yang cenderung koruftif dan manipulatif mungkin masih dilakukan saat ini. Praktik harus memberikan upeti dan memberikan uang sekian juta untuk meningkatkan pangkat dan kepala sekolah kepada birokrat harus dikikis oleh para guru, kalaupun ada

birokrat yang harus memaksa, guru harus dialog dengan DPRD kita. Sebab dengan pintu ini akan menutup profesionalisme tenaga­tenaga pendidikan di sekolah dan yang jadi korban adalah anak-anak kita. Terlepas dari itu semua, penulis lebih mengkhususkan diri pada pembahasan gaya pengajaran subversif yang merupakan salah satu bahan pemikiran bagi pencerahan pemikiran guru. Tentu bukan bermaksud menyalahkan metode pendidikan gaya bank tersebut di atas, karena setiap metode mempunyai sisi kelebihan dan kekurangan, serta tergantung mated pelajarannya.

GURU "SUBVERSIF"

Seorang guru yang balk sebagaimana dikemukakan oleh Umar Khayam seyogyanya tak sekedar bertugas mengalihkan informasi­

informasi dan hapalan-hapalan dan mengajarkan hapalan-hapalan. Tetapi didalam suasana dimana pendidikan sering berada dibawah dinamika kekuasaan, guru harus berani bertindak dan mengemukakan isu-isu "subversif' dan controversial ketika mengajar di kelas. Dalam arti guru harus berani menampilkan pemikiran-pemikiran alternatif atau counter culture. Guru yang subversif bukan berarti is mengajak murid agar berperilaku memberontak pada pemerintah dan melanggar hokum. Yang ingin ditekankan Umar Kayam dalam proses pendidikan yang seharusnya terjadi bukanlah proses transfer seperangkat doktrin yang kaku dan seslalu menekankan apa yang seharusnya terjadi, melainkan harus bersubstansi pembebasan. (Republika 25/10/94).

Menurut Paolo Freire, pendidikan yang membebaskan dan "subversif' disebut dengan model pendidikan "hadap masalah". Dalam pendidikan ini, peran utama guru adalah melakukan dialog, berjuang bersama-sama dengan anak didik bagi kebangkitan kesadaran dan keterlibatan krisis terhadap realitas. Dengan gaya ini menuntut para guru untuk mendialogkan kurikulum pengajaran dengan perkembangan realitas social, politik, ekonomi, budaya dan masalah lain yang sedang terjadi.

Guru dituntut untuk menjadi "guru gaul" dalam arti mengikuti perkembangan actual bidang studi yang dipegangnya. Ilmu sebagai produk manusia terkena hokum relatif dan pragmatis. Hasil dan nilai teori keilmuan tidak akan gugur jika belum ada penemuan dan teori baru yang

meruntuhkannya. Resikonya sebuah kurikulum haruslah mengikuti atau bahkan merekayasa perkembangan umat manusia. Karena perubahan kurikulum seringkali masih disentral ke pusat, maka ditangan gurulah dalam mengemas dan meramu kurikulum dengan kejadian yang berkembang.

Dalam lapangan ilmu social perubahan itu sangat cepat. Dalam konteks Indonesia perkembangan, peristiwa-peristiwa, dan gejolak social, budaya, politik dan ekonomi dari peralihan orde baru ke era reformasi mengalami perubahan yang radikal dalam kenegaraan dan masyarakat kita. Isu-isu perseteruan antara partai politik, tingkah laku elit politik, kasus politik, pemutar-balikan hokum, otonomi daerah,krisis ekonomi, kerusuhan­kerusuhan, Hak Asasi Manusia, kerusakan alam, bencana alam, pemerkosaan, perampokan, narkoba, sek bebas, kasus korupsi, dan pembunuhan yang sedang terjadi, bisa menjadi bahan untuk dialog kritis dengan murid, sehingga pengajaran kita kontroversial.

Dalam lapangan ilmu alam banyak penemuan-penemuan baru yang bisa dijadikan bahan untuk pengayaan mated. Mated tersedia di Koran, majalah, tabloid, VCD, dan internet. Masalahnya adalah apakah guru kita mempunyai daya kreativitas tinggi. Jawaban sementara tidak dan sulit, ditengah segudang masalah beban-beban ekonomi yang sangat berat dan kesejehateraan yang sangat terbatas, sangat sulit berharap terwujud guru subversiv. Mudahan-mudahan UU Guru bisa menjadi motivator untuk meningkatkan kompetensi guru yang diiringi dengan pula peningkatan kesejahteraan para guru.

Wallahu ‘alam bissawab.